Sebelum Membaca Tulisan Ini Penulis Berharap Agar Anda Membacakan Surat al-Fatihah Satu Kali Lalu Hadiahkan Kepada Penulis, Istri, Keluarga, Orang Tua, Karib Kerabat, Teman-Teman, dan Guru-Guru Penulis. Al-Fatihah!
LIMA PULUH DELAPAN HARI DI BAWAH LANGIT QURAN
(Jadilah Hafizh Hafizhah; Langkah-Langkah Stratejik Menghapal Al-Quran Berdasarkan Pengalaman Penulis yang Khatam dan Hapal al-Quran 30 Juz dalam waktu 58 hari)
Tulisan ini saya persembahkan untuk istri tercinta yang sampai saat tulisan ini selesai ditulis sedang mengikuti UAS - V di Institut Ilmu Al-Quran Jakarta
H. Deden Muhammad Makhyaruddin Al-Munjy
PENDAHULUAN
Siapa yang tidak mau hapal al-Quran. Penulis yakin, semua orang mukmin tentu sangat menginginkan bisa hapal al-Quran, karena al-Quran adalah cita-cita mereka yang paling tinggi. Telah banyak ayat-ayat dalam al-Quran yang menjelaskan keutamaan para penghapal al-Quran, dan telah banyak pula riwayat hadits dari Nabi SAW yang menceritakan fadhilah-fadhilah menghapal al-Quran. Sehingga, sejak zaman diturunkannya sampai kini, telah lahir ribuan hafizh dan hafizhah yang tersebar di negeri-negeri kamu muslimin. Lembaga-lembaga tahfizh didirikan, dan buku-buku ditulis untuk memberikan motivasi, metode, dan tips menghapal al-Quran dalam rangka mencetak generasi-generasi huffazh yang tak lekang oleh zaman yang kian suram. Keberadaan mereka di akhir zaman laksana bintang-bintang yang bersinar di tengah kegelapan malam.
Di balik kemudahannya untuk dihapal, al-Quran mempunyai cara sendiri untuk menguji keikhlasan para pembaca dan penghapalnya. Dan di balik ujian ini, setan turun tangan, agar mereka tidak mampu bersabar menghadapi ujian itu. Pada masa-masa ujian itu, lembaga tahfizh yang dipilihnya kadang tidak lagi dapat membantunya, aneka tips dan metode yang tertulis dalam ratusan buku kadang tidak besar lagi pengaruhnya. Ingat, dalam kondisi seperti itu, tidak salah menggantungkan keadaan kepada lembaga, metode, dan tips, tetapi alangkah baiknya apabila menggantungkannya kepada al-Quran itu sendiri. Al-Quran adalah lembaga, al-Quran adalah metode, dan al-Quran adalah tips. Karena itu, melalui tulisan ini, penulis ingin berbagi pengalaman sewaktu penulis menghapal al-Quran dan bagaimana langkah-langkah penulis dalam menghadapi ujian-ujian yang disuguhkan oleh al-Quran, mulai dari awal hingga akhir.
Untuk lebih akrab, penulis memilih meyajikan tulisan ini dengan bahasa sehari-hari, karena tulisan ini tidak untuk dibaca seperti buku pada umumnya. Tetapi sekedar curhat yang sewaktu-waktu dapat di buka untuk memperbaharui semangat. Karena itu, tinggalkanlah tulisan ini, jika ternyata dengan membacanya, waktu menghapal anda menjadi terganggu. Maka, seiring tangan menghulurkan, semoga Allah SWT melahirkan banyak huffazh melalui tulisan ini, dan menghantarkan kami (penulis, istri, orang tua, karib kerabat, dan guru-guru) kepada keridhoanNya. Seandainya terdapat salah dalam tulisan ini, kiranya pembaca sudi meluruskannya, memaafkan kekhilafan penulis, dan memintakan ampunan kepada Allah SWT untuk penulis. Yang benar dari Allah SWT, dan yang salah dari kelfaan penulis. Wa Billahit Taufiq.
H. Deden Muhammad Makhyaruddin Al-Munjy
Sadeng, 30 Mei, 2009
ÉOó¡Î0 «!$# Ç`»uH÷q§9$# ÉOÏm§9$#
Pasal I
I’DAD[1]
A. Pengertian I’dad
I’dad artinya persiapan yang harus terpenuhi sebelum melakukan proses menghafal, karena menghafal al-Quran itu merupakan sesuatu yang besar dan tidak mudah. Persiapan ini sangat penting untuk menghindari terjadinya sesutau yang tidak diinginkan pada saat proses menghapal berlangsung, karena layaknya sebuah tugas besar, dalam menghapal al-Quran sudah dipastikan akan banyak sekali gangguan, rintangan, hambatan, cobaan, dan godaan yang menghadang, khususnya pada pertengahan kedua. Dengan persiapan yang matang, segala bentuk rintangan tidak akan pernah menggoyahkannya sedikit pun. Karenanya pula, peroses menghapal akan menjadi terasa lebih mudah dan ringan.[2]
B. Macam-Macam I’dad
1. Cinta[3]
Segala sesuatu harus dimulai dengan cinta, karena cinta akan membawa kepada keyakinan, pengagungan, perjuangan, pengorbanan, kepatuhan, dan usaha tanpa pamrih, sehingga segala sesuatu yang besar akan tampak kecil, dan segala sesuatu yang berat akan terasa ringan. Misalnya, seorang laki-laki yang sedang dilanda cinta kepada seorang perempuan. Untuk merealisasikan cintanya, tentu apa pun cara akan ditempuhnya, meskipun nyawa menjadi taruhan. Capek, sakit, lapar, dan getir tidak akan dirasakannya lagi, karena dia yakin akan manisnya hasil akhir dari perjuangannya itu. Ketika kita bisa melakukan hal itu untuk seseorang yang kita cintai padahal itu tidak sepenuhnya benar, kenapa kita tidak bisa melakukannya untuk al-Quran, padahal itu cinta hakiki, karena merupakan perwujudan cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya yang merupakan puncak dari segala cinta.
Cinta al-Quran bisa muncul kapan saja dan di mana saja. Dan untuk memupuk cinta itu kita harus mengetahui dan mengenal al-Quran lebih dekat, juga hati kita harus senantiasa yakin bahwa:
a. Al-Quran adalah kalamullah Yang Maha Agung, Maha Suci, Maha Indah, dan Maha Besar di atas segalanya, sehingga tidak ada lintasan sedikit pun adanya sesuatu yang terkesan melebihi al-Quran
b. Al-Quran dapat memberikan segalanya, mewujudkan aneka macam harapan dan cita-cita, satu-satunya sumber kesuksesan dan kebahagiaan, dan memberikan syafaat di akhirat
c. Menghapal al-Quran merupakan tugas suci dan mulia, yang menjadikan penghapalnya disejajarkan dengan malaikat[4] dan dikabulkan doa
d. Al-Quran dimudahkan oleh Allah SWT untuk dihapal, dan Allah SWT akan memberikan kemudahan bagi orang yang serius menghafalkannya[5]
Pengetahuan tentang al-Quran bisa langsung didapatkan dari membacanya setiap hari, hadits-hadits Nabi yang menceritakan fadhilah-fadhilahnya, dan informasi dari ustadz-ustadz, guru-guru, dan lain sebagainya. Upayakan dengan semaksimal mungkin untuk mendapatkan pengetahuan itu agar cinta ini semakin betambah dan tidak tergoyahkan. Juga, jangan lupa berdoa kepada-Nya yang di tangan-Nya tergenggam segala cinta.
2. Cita-Cita[6]
Yang dimaksud cita-cita disini adalah keinginan yang begitu besar dan kuat untuk menghapal al-Quran hingga mengalahkan keinginan-keinginan yang lain. Cita-cita berawal dari cinta dan ketertarikan. Bayangkan, misalnya suatu ketika kita sangat ingin buah nangka, tapi kita tidak bisa mendapatkannya karena uangnnya tidak cukup atau barangnya tidak ada. Tentu buah nangka itu akan terus mengganggu pikiran hingga tidak nyenyak tidur, lalu semua upaya dan kemampuan pun dikerahkan untuk mendapatkannya. Biasanya hal ini terjadi pada anak-anak, atau perempuan yang sedang ngidam. Artinya, keinginan menghapal al-Quran itu harus sedemikian besar dan kuat seperti anak-anak menginginkan sesuatu dan perempuan yang sedang ngidam. Atau lebih dari itu, kita sebisa mungkin harus menganggap membaca al-Quran sebagai kebutuhan primer, bahkan lebih. Coba lihat orang yang sudah sangat lapar ketika melihat makanan, atau orang yang sudah tidak kuat hendak buang air besar, tentu tidak akan bisa ditahan. Ditahan-tahan pun akan keluar juga. Nah, keinginan menghapal al-Quran harus sampai ketingkat itu, tidak dapat ditahan lagi.
Cita-cita yang tinggi dan cinta kepada al-Quran harus ditanamkan kepada anak-anak sejak dini dengan cara memperkenalkannya, menceritakan keistimewaan-keistimewaanya, keutamaan-keutamaanya, dan kelebihan-kelebihannya, baik dalam bentuk pesan-pesan sederhana, maupun cerita orang-orang shalih terdahulu yang berinteraksi dengan al-Quran, sehingga anak-anak mempunyai kontak psikilogis yang baik dengan al-Quran sejak dini.
3. Niat[7]
Niat artinya kebulatan hati yang tidak dapat diganggu-gugat untuk menghapal al-Quran bersamaan dengan melakukankannya. Tanda-tanda niat yang kuat adalah tidak berubah meskipun keadaan serba tidak mendukung. Misalnya orang tua tidak mendukung, waktu yang sempit karena berbenturan dengan kegiatan lain yang menumpuk, kekurangan biaya, dihina orang, sering sakit, dan IQ yang standar.
Niat yang menggebu-gebu tidak sepenuhnya benar apabila tidak disandarkan kepada keikhlasan.[8] Niat yang benar dalam menghapal al-Quran adalah kebulatan hati untuk menghapal dengan tujuan mengharap keridhoan Allah SWT, pahala dari-Nya, dan ampunan-Nya. Karena perjalanan dalam manghapal al-Quran tidak selamanya mulus, kadang ada kesulitan yang benar-benar sulit dan tidak dapat dipecahkan dalam waktu yang singkat, biasanya, dalam menghadapinya, semangat akan berkurang karena mungkin ada rasa kecewa dalam kondisi fisik yang lemah dan otak yang kelelahan. Tetapi kalau niatnya lillahi ta’ala, tentu hal semacam itu tidak seharusnya terjadi. Coba renungkan kata-kata al-Ghazaly di bawah ini:
“Aku menuntut ilmu bukan untuk Allah, tetapi ilmu tidak mau kecuali untuk Allah”
4. Tahsinul Qiraat[9]
Salah satu masalah besar dalam menghapal al-Quran adalah bacaan yang belum baik. Orang yang membaca al-Qurannya belum baik relative lebih lambat hapalannya dari pada orang yang sudah baik. Belum baik membaca al-Quran maksudnya adalah:
1. Belum bisa membaca al-Quran sama sekali, disebabkan belum belajar membaca akibat masih anak-anak, tidak ada guru, atau tidak mau belajar
2. Belum lancar membaca al-Quran, disebabkan jarang membacanya, belum terbiasa, atau tidak serius belajarnya
3. Belum benar membaca al-Quran, disebabkan belajar tanpa guru, tidak selesai belajarnya, atau berguru kepada orang yang salah
Oleh karena itu, sebelum melangsungkan kegiatan menghapal berusahalah semaksimal mungkin untuk memperbaiki bacaan dengan cara belajar yang benar kepada guru yang benar sampai selesai, dan memperbanyak membacanya pagi dan petang. Mungkin ini akan berlangsung lama sesuai besik yang pernah dimiliki.
Untuk anak-anak, seiring dengan belajar tahsin, proses menghapal, khususnya surat-surat pendek, sangat baik dimulai sejak dini meskipun belum bisa membaca al-Quran. Kegiatan ini bisa dilakukan langsung oleh orang tuanya, atau orang yang diserahi amanah untuk mendidiknya, juga dapat dibantu dengan pemutaran kaset murattal secara rutin dan teratur. Tanamkan kepada anak-anak kecintaan kepada al-Quran sedini dan sebisa mungkin agar tumbuh dengan qalbu qurani.
5. Menentukan Mushaf[10]
Di Indonesia, bahkan di dunia, pada umumnya menghapal al-Quran dilakukan dengan menggunakan mushaf. Kecuali di sebagian negeri-negeri kaum Muslimin di Afrika seperti Maroko dan Libya, di sana mereka menghapal al-Quran dengan menggunakan sebuah papan. Ayat yang hendak dihapal, mereka tulis di papan tersebut, dan tidak dihapus kecuali telah benar-benar hapal. Di bagian bumi lain, ada yang menggunakan kaset, isyarat gerak, dan computer. Namun apa pun bentuknya, mushaf mutlak diperlukan.
Menghapal al-Quran dengan menggunakan mushaf dipandang efektik, karena biasanya menghapal itu lebih mudah dilakukan dengan cara melihat, karena mushaf dapat menampilkan gambar yang asli, mudah ditandai dalam setiap lembarnya, dan mudah dirujuk kembali ketika, misalnya, ada yang lupa. Hal ini menuntut agar proses menghapal dilakukan dengan menggunakan satu jenis mushaf. Tidak boleh berganti-ganti. Karena akan menimbulkan kekeliruan, dan kekacauan gambar yang telah terekam di otak akibat letak dan posisi ayat yang tidak sama.
Dalam memilih dan menentukan mushaf, sebaiknya perpegang kepada mushaf yang setiap sudut dari setiap lembarnya merupakan penutup ayat, atau dinamakan mushaf sudut. Mushaf sudut ini ada yang satu juz-nya sepuluh lembar, dan ada yang delapan lembar. Dan biasanya, yang umum digunakan adalah mushaf yang satu juz-nya sepuluh lembar. Kemudian pilihlah mushaf sudut yang ditulis dengan Rasm Utsmani, seperti mushaf yang diterbitkan oleh Kerajaan Arab Saudi. Dengan itu, diharapakan lebih banyak berkah dan nilainnya di sisi Allah SWT.
6. Waktu[11]
Kapan menghapal al-Quran? Kalau pertanyaan ini diartikan harus sejak kapan mulai menghapal al-Quran? Maka jawabannya, sedini mungkin. Dan manfaatkan masa muda, jangan menunda-nunda. Sampai kapan?. Ya, sampai hapal semuanya. Tidak ada kata terlambat untuk menghapal al-Quran. Seandainya ada orang yang mau menghapal al-Quran, tapi umurnya hanya tersisi satu menit lagi, maka mulailah menghapal. Tentu, di sisi Allah, yang satu menit ini lebih baik dari pada seluruh umurnya.
Namun, yang dimaksud waktu di sini ini bukan itu, tetapi saat-saat yang baik digunakan untuk menghapal. Secara umum waktu terdiri dari siang dan malam. Dan kita, Umat Muslim, telah mengetahui waktu-waktu tertentu untuk mendirikan shalat yaitu shubuh, zhuhur, ashar, maghrib, dan isya. Sebenarnya, setiap bagian dari siang dan malam, sepenuhnya mendukung terselenggaranya proses menghapal dengan baik, tapi kadang kondisi kita sendiri yang kurang mendukungnya di waktu-waktu tertentu. Jadi yang ditekankan di sisni adalah harus ada pengaturan waktu sesuai dengan kesibukan yang ada. Kemudian membuat target sesuai kemampuan yang dimiliki, mau berapa lama sampai khatamnya. Setelah itu bisa diperkirakan seharinya harus dapat berapa lembar agar khatam sesuai target.
Pada dasarnya waktu menghapal itu kapan saja, mungkin masing-masing orang akan berbeda. Tapi yang harus ditekankan, waktu menghapal harus lebih banyak dari waktu tidur.[12] Misalnya, rata-rata maksimal tidur setiap orang adalah 8 jam, maka waktu menghapal pun jangan kurang dari 8 jam, bahkan harus lebih. Sebisa mungkin pergunakanlah waktu panjang, yaitu waktu antara shubuh dan zhuhur, dan waktu antara isya dan shubuh. Menghapal jangan menunggu mmud, karena mmud itu tidak selamanya ada. Bisa jadi seharian mmud itu tidak datang-datang, sedangkan waktu terus berjalan. Usahakan bangun malam secara rutin tiap hari, dan manfaatkan waktu sebelum dan sesudah shalat fardhu.
7. Tempat[13]
Selain waktu, tempat juga sangat mempengaruhi baik dan buruk terselenggaranya kegiatan menghapal.[14] Tempat dapat berarti rumah, masjid, dan sebuah lembaga pendidikan semacam pesantren. Atau lebih khusus lagi, tempat dapat diartikan lokasi tertentu tempat melangsungkan kegiatan menghapal. Bisa jadi, bagi sebagian orang, suatu lokasi terasa enak dijadikan tempat melangsungkan kegiatan menghapal, dan bagi yang lain, tidak. Dan bisa jadi berpindah-pindah setiap saat. Misalnya, di pesantern, biasanya santri menghapal di dalam masjid, tapi kadang ia lebih enak menghapal di asrama, aula, majlis, halaman pesantren, lokasi tertentu di sekitar pondok, atau sambil berjalan.
Dari tempat-tempat yang telah disebutkan di atas, tempat dalam pengertian pesantren atau lembaga khusus tahfizh al-Quran adalah yang paling penting diperhatikan. Dalam menghapal al-Quran kadang harus ada hijrah atau belajar keluar. Kalau lingkungan rumah kondusif, mungkin kegiatan menghapal dilakukan cukup di rumah, tidak harus mesantren keluar. Tapi kalau tidak kondusif, biasanya kegiatan menghapal akan sulit dilakukan, kecuali harus keluar. Meskipun sebetulnya, kondusif dan tidaknya suatu tempat untuk melangsungkan kegiatan menghapal ditentukan oleh diri sendiri. Oleh karenanya, setelah niat menghapal begitu kuat, tentukan pasantren atau lembaga tahfizh mana yang akan dipilih. Tetapi harus konsisten, ketika telah memilih sebuah pesantren, jangan karena alasan tidak betah dan ini, itu, lantas keluar lagi sebelum target tercapai. Karena kalau memandang kehidupan pesantren dengan keinginan hati, maka akan banyak sekali ketidakcocokan di pesantren mana pun.
Pesantren memang perlu, tapi hal ini jangan dijadikan alasan untuk tidak menghapal manakala pesantren yang dihendaki sulit didapatkan. Misalnya, tidak ada biaya, orang tua tidak mengizinkan, atau memang tidak ada yang cocok. Menghapal harus tetap berjalan ketika niat telah bulat, jangan menunggu masuk pesantren yang belum diketahui kapan. Kalau telah mulai mengahapal, kemudian misalnya, kesempatan masuk pesantren yang dikehendaki itu ada, maka tinggal melanjutkan saja. Dan seandainya kesempatan itu tidak ada juga sampai kegiatan menghapal selesai, maka buat apa masuk pesantren, khan al-Quran-nya juga sudah hapal, bukannya masuk pesantren itu buat menghapal?.. Tapi kalau ada kesempatan, meskipun sudah hapal juga, masuk pesantren tetap perlu, karena kalau menghapal tanpa guru, biasanya ada saja yang salah.
Mursyid[15]
Mursyid adalah orang yang membimbing menghapal, dan tentunya juga harus hafizh. Bimbingan yang dilakukan oleh mursyid biasanya dalam bentuk menerima setoran hapalan, mengontrol dan mengkondisikan hapalan, memberikan saran, nasihat, arahan, dan motivasi, dan memeriksa bacaan. Maka dengan adanya mursyid kegiatan akan berlangsung dengan kontinyu dan dinamis. Selamat menghapal!
Pasal II
KAIFIYYAH[16]
(Proses dan Tata Cara Melangsungkan Kegiatan Menghapal)
A. Dzikir[17]
Setiap orang mungkin berbeda dalam metode dan cara menghapal. Namun secara umum, menghapal al-Quran dapat diartikan proses atau kegiatan memasukan ayat-ayat al-Quran ke dalam hati dan terus memeliharanya. Proses ini membutuhkan kerjasama yang solid antara otak, indra penglihatan atau pendengaran, hati, dan lidah. Pemusatan terpadu antara otak, mata, hati, dan lidah ini penulis namakan dzikir. Hal ini sangat menentukan, artinya, ketika ketiganya tidak bekerja dengan kompak, maka proses ini akan berlangsung dengan lambat, atau bahkan gagal.
Dzikir dapat dicapai dengan:
1. Terlebih dahulu, kosongkan pikiran dan konsentrasi. Tenang, ambil posisi yang tepat, tangan memegang mushaf dengan penuh pengagungan dan dalam keadaan suci. Usahakan menghadap qiblat, atau kalau bisa, sebelumnya bersih-bersih, mandi, memakai pakaian yang rapi, dan wewangian. Kemudian buka mushaf dengan membaca taawudz dan basmalah
2. Tajamkan penglihatan dan pusatkan kepada ayat yang hendak dihapal sedikit demi sedikit hingga dalam pikiran (otak) tidak tergambar apa-apa selain ayat itu. Usahakan, jangan sampai sedikit pun terbuka celah untuk masuknya hal lain ke dalam pikiran.
3. Baca ayat itu dengan perlahan-perlahan dalam hati, kemudian pejamkan mata dalam keadaan hati tetap membacanya sesuai dengan kemampuannya menangkap gambar yang disampaikan oleh mata melalui otak.
4. Kemudian lafazkan ayat itu dengan lisan secara perlahan-lahan dan dengan suara pelan, dan terus ulang-ulanglah sesuai kebutuhan hingga melekat dan jinak di lidah dengan baik. Kemudian lafazhkan dengan suara keras. Insyaallah ketika itu anda telah hapal.
Ayat yang sedang dihapal banyak yang tidak sama ukurannya. Ada yang sedang, ada yang panjang, dan ada yang pendek. Proses dzikir pada ayat yang pendek, terkesan mudah, sehingga mengabaikan konsentrasi penuh. Justru ini masalah, karena dikhwairkan akan mudah lupa. Dan ayat yang panjang, kadang-kadang memunculkan perasaan berat, sehingga konsentrasi pun terpecah. Ini pun berbahaya, karena tentu saja akan memperlambat proses dzikir. Dan ayat yang sedang, juga batasan-batasannya relative, bisa jadi menurut sebagian orang sedang, sebagian pendek, dan sebagian lagi panjang. Oleh karena itu, banyaknya ayat untuk sekali proses dzikir jangan dibatasi oleh ayat, tetapi disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki. Atau alternative lain adalah dengan cara perkalam atau perbaris. Terserah, mau sekali proses hanya sebaris, dua baris, atau langsung satu halaman.
Selain dengan mata, dzikir pun dapat dilakukan dengan memanfaatkan pendengaran. Namun, tentunya juga perlu ada orang lain yang membacakan ayatnya, baik langsung maupun rekaman. Bahkan jika dzikir pendengaran ini kemudian dilanjutkan dengan penglihatan, maka akan lebih baik lagi, karena antara satu sama lain akan saling melengkapi. Ketika penerimaan pendengaran kurang baik hingga menimbulkan keraguan, maka akan menjadi yakin setelah melihatnya. Begitu juga, ketika penglihatan tidak kuat menangkap gambar ayat, maka pendengaran akan menguatkannya.
Proses dzikir tidak menuntut harus mengetahui makna atau terjemah ayat. Oleh karenanya, meskipun metode dzikir ini awalnya diperuntukan bagi usia tertentu, sebagian anak-anak yang sudah lancar membaca al-Quran pun bisa melakukannya dengan bimbingan mursyid. Selanjutnya, untuk lebih memudahkan proses dzikir, terlebih dahulu baca ayatnya minimal tiga kali sambil diperhatikan letak posisinya, hukum bacaannya, atau bahkan hayati maknanya bagi yang mampu, termasuk memperhatikan kedudukan setiap lafazhnya menurut tinjauan ilmu Nahwu dan Sharaf.
B. Mujahadah[18]
Proses dzikir tidak selamanya berjalan mulus. Kadang konsentrsi berkurang, pemusatan melemah, stamina menurun, otak lelah, hingga pemusatan terpadu pun berantakan. Dalam kondisi seperti itu, jangan lantas menyurutkan semangat untuk terus berusaha. Maka di sinilah harus ada yang dinamakan Mujahadah , yaitu semangat yang membara, bersungguh-sungguh, bekerja sekuat tenaga, mengerahkan segala kemampuan, dan berdaya upaya sampai titik penghabisan.
Sulit dan tidaknya menghapal jangan dipersoalkan, yang penting jangan menghentikan kegiatan menghapal yang sedang berlangsung. Sesulit apa pun harus tetap maju, pantang mundur, meskipun telah gagal lebih dari seribu kali. Karena sebetulnya sulit itu muncul akibat kurang konsentrasi. Coba usahakan buat kondisi setenang mungkin hingga dapat konsentrasi penuh, lalu lakukan dzikir sebagaimana telah dijelaskan di atas, insyaallah akan ada sesuatu yang berbeda. Konsentrasi yang maksimal hanya ada apabila dibiasakan dan dilatih terus-menerus, misalnya dengan cara belajar membiasakan berusaha khusyu’ dalam shalat.
Mujahadah dapat diartikan juga jihad atau berperang melawan musuh-musuh yang menyerang sewaktu kegiatan menghapal hendak dimulai atau sedang berlangsung. Musuh-musuh tersebut antara lain:
1. Malas,[19] biasanya datang sebelum kegiatan menghapal berlangsung sehingga mengakibatkan kegiatan tertunda bahkan gagal dilaksanakan. Malas adalah pengaruh dari bisikan setan yang diperturutkan. Banyak cara yang dapat dijalankan dalam memeranginya, tapi yang terpenting adalah membendung hati serapat mungkin agar tidak dapat ditembus oleh bisiskan setan selembut apa pun. Ketika hati mengatakan, nanti ah sebentar lagi, biar konsentrasinya bisa full. Ketahuilah, itu bukan kata hati, tapi bisikan setan. Konsentrasi tidak akan datang dengan ditunggu. Cepatlah langkahkan kaki, wudhu, ambil mushaf, dan segeralah menghapal. Kalau kata-kata itu diturutkan, akan menyesal. Karena, jangan salah, apabila kita menyakini saat ini terasa berat menghapal, maka pada saat sesudanya tentu akan lebih berat lagi. Kalau saat ini banyak gangguan, maka saat sesudahnya akan lebih banyak lagi. Kita tidak akan pernah tahu apa sebenarnya yang akan terjadi kepada kita setelah ini. Misalnya, jam 8 pagi adalah waktu menghapal, waduuh masih capek habis piket, habis ini, habis itu. Nanti ah bentar lagi, rebahan dulu setengah jam biar fresh. Ternyata ketiduran, dan bablas sampai jam sepuluh. Mana cucian banyak. Lalu nyuci dulu sekalian mandi. Selesai jam sebelas. Sudah rapi, eh ada tamu. Ngajak ngobrol, sampai jam 12. Shalat zhuhur. Setelah itu waktunya makan siang, lapar. Makan dulu. Ternyata makanannya tidak cocok, sakit perut. Pergi ke WC. Di WC antri. Tak tahan menahan sakit, terpaksa mencari WC alternative. Karena dibuangnya telat, sakit perut berkelanjutan. Beli obat, tidak cocok, akhirnya berbaring kesakitan. Dan menghapalnya gagal total. Ingat..!, malas tidak akan kalah hanya dengan pengingkaran hati. Malas hanya akan kalah dengan tindakan nyata dalam bentuk mengerjakan segala apa yang bertentangan dengan keinginannya.
2. Mengantuk,[20] biasanya datang di pertengahan menghapal atau sesaat setelah dimulai. Mengantuk ini seringkali terjadi disebabkan kurang istirahat, terlalu capek, dan kebanyakan makan. Tapi adakalanya, mengantuk datang tiba-tiba tanpa diketahui sebabnya. Kadang aneh, sebelum mushaf dibuka, tidak mengantuk, mata terasa segar, bahkan sempat tertawa-tawa, tapi ketika mushaf telah dibuka dan ayat telah dibaca, maka mulut mulai menguap, dan mata mendadak lemah seakan-akan tidak pernah segar sebelumnya. Mungkin akibat kurang konsentrasi. Namun yang jelas, mengantuk ini merupakan salah satu bentuk godaan yang dihembuskan setan agar kegiatan menghapal berlangsung tidak sempurna atau gagal. Ketika rasa kantuk menyerang, jangan diturutkan, meskipun hati memberikan pertimbangan lain. Misalnya kata hati, tidurkan dulu, biar menghapalnya tenang dan bisa konsentrasi. Itu bukan kata hati, tapi kata-kata setan yang menyelinap ke dalam hati. Tepislah kata-kata itu dengan menyatakan, sebaiknya selesaikan menghapal dulu, biar nanti tidurnya tenang. Karena seandainya diturutkan, terus misalnya tidur dulu, maka tetap saja ketika dimulai lagi menghapal, pasti rasa kantuk akan datang lagi. Ketika kantuk mulai menyerang, diharapkan segera mengambil air wudhu meskipun harus sampai berulang-ulang. Ternyata masih juga mengantuk, rubah posisi duduk anda. Coba lakukan menghapal dalam keadaan berdiri, berjalan, pindah tempat, atau berlari. Teruslah berjuang hingga kantuk itu kapok berhapadan dengan anda.
3. Melamun,[21] biasanya muncul dalam kondisi capek. Ingin hati cepat selesai 30 juz, apa daya se-halaman pun susah. Otak ngedrop, tidak ada semangat, tugas banyak. Itu pengen bisa , ini pengen bisa, tapi satu pun belum dapat direalisasikan, karena ternyata sangat sulit diwujudkan. Dalam kondisi itu, biasanya melamun dapat sedikit menenangkan. Dalam lamunan tergambar seandainya sudah selesai hapal 30 juz, dapat prestasi, dapat uang banyak, bisnis sukses, jadi sarjana, punya pesantren, hidup penuh kebahagian dan kecukupan. Hai….! Bangun, cita-cita dan harapan tidak akan terwujud dengan melamun. Baca istighfar. Setan sedang berbisik ke dalam hati yang lelah. Kepalkan tangan sekuat-kuatnya, usir setan dengan memompakan semangat baru dalam niat yang ikhlash. Ingat baik-baik, bahwa yang sedang dihadapi itu adalah lebih mulia dari apa yang dilamunkan. Kenapa anda begitu tertarik dengan apa yang dilamunkan itu, sedang semua itu tidak ada nilainya sama sekali dibandingkan dengan kegiatan menghapal yang sedang anda hadapi. Seharusnya anda lebih bersemangat melakukan apa yang sedang anda lakukan itu. Ingatkah anda kepada niat awal anda? Sudah ikhlaskah anda? Lalu kenapa anda tidak bersemangat? Bangun, cepat selesaikan kegiatan menghapal anda! Orang ikhlas tidak akan pernah merasa kecewa apalagi patah semangat meskipun secara lahir usahanya selalu gagal. Karena tujuannya adalah Allah SWT, dan ia yakin bahwa Allah SWT tidak akan pernah menyia-nyiakannya. Kesulitan adalah tantangan. Anda belum benar-benar ikhlas sebelum anda menganggap hal terberat menjadi hal yang paling ringan. Anda harus malu kalau anda menghapal tapi belum merasakan lelah, letih, dan getirnya, karena berarti anda belum benar-benar Mujahadah. Balaslah semua hambatan itu dengan senyuman, dan tetap semangat.
4. Keterbatasan Waktu.[22] Setiap orang sehari semalam, waktunya tidak lebih dari 24 jam. Sebagian orang ada yang dapat menyelesaikan hal-hal besar dalam waktunya itu, dan sebagian lagi dalam waktunya itu mengurus diri sendiri saja tidak bisa. Dalam menghapal al-Quran jangan merasa tidak mempunyai cukup waktu. Kesibukan jangan dijadikan alasan. Coba atur waktu anda dengan baik. Kalau anda benar-benar sibuk dan padat, gunakan waktu sempit. Mushaf harus selalu ada di tangan. Misalnya, keseharian kita adalah berangkat ke sekolah tiap pagi, dari tempat kita ke sekolah berapa lama, biasanya kita ngapain aja selama perjalanan itu?. Tidak ada khan? Gunakanlah untuk menghapal. Tentu di sekolah pun tidak akan full belajar, ada kosongnya, ada istirahatnya, biasanya kita ngapain aja selama waktu kosong dan istirahat itu?. Tidak ada khan?. Nah, pergunkanlah untuk menghapal. Kemudian hal yang sama lakukan ketika pulangnya. Dan mungkin masih banyak lagi waktu-waktu yang lainnya. Anda jangan menganggap remeh waktu yang sempit. Jangan berfikir bahwa dalam waktu sesingkat itu tidak dapat melangsungkan kegiatan menghapal atau merasa tanggung. 5 menit, misalnya, itu sudah cukup, meskipun tentunya tidak banyak yang didapatkan. Konsentrasi pun tidak seperti di waktu yang khusus. Tapi harap diketahui, kadang-kadang manusia itu menjadi cerdas dan produktif ketika telah terdesak. Namun ketika ternyata tidak dapat hasil, tidak apa-apa, yang penting kita sudah ada usaha. Karena, jangankan usaha yang masih bisa kita ukur, usaha sebesar atom saja akan dapat terlihat hasilnya di akhirat kelak. Coba bayangkan kalau kesempatan lima menit itu muncul sepuluh kali dalam 24 jam. Tentunya juga sedikitnya 50 menit sudah digunakan untuk menghapal.
5. Ketidakcocokan Lingkungan.[23] Itu nafsu, jangan dimanjakan. Ketika mengalami suatu kendala, jangan suka menyalahkan, dan mengandai-andai sesuatu yang tidak-tidak. Misalnya, di pesantren, sebagian santri mungkin ada yang merasa berat dengan tugas-tugas pesantren hingga hapalannya tidak maksimal. Karena keadaan yang serba tidak kondusif, sebagian teman ada yang galak, dimarahin pengurus, dan keluhan ini-itu adalah dibuat oleh diri sendiri. Buktinya, kalau sedang tidak ada masalah, tidak ada keluhan apa-apa. Memang pada saat-saat tertentu, ketidakcocokan itu kadang-kadang ada, semuanya bertentangan dengan keinginan. Lawanlah perasaan itu, teruslah bertahan smapai segalanya tercapai. Jangan bersedih. Jangan merasa tidak ada yang menyayangi. Allah SWT sendiri yang langsung akan memanjakan. Lihatlah Bilal Ibn Rabah, kenapa dia begitu sukses. Apakah dia berada di lingkungan yang pas dengan keinginannya. Sedikit pun tidak. Bahkan sebaliknya. Dia sukses justru dikarenakan di sekelilingnya dipenuhi dengan segala bentuk ketidakcocokan, namun dia tetap bertahan. Renungkanlah..!
6. Sakit.[24] Hal ini sudah biasa bagi santri, dan suka dijadikan alasan untuk tidak mengaji dan tidak menghapal.. Kadang-kadang aneh juga, sebagian santri hanya sembuh apabila telah diidzinkan pulang. Itu tidak baik, jangan dibiasakan. Penyakit harus dilawan pantang mundur. Periksakan ke dokter, minum obat dengan teratur. Usahakan menghapal jangan berhenti keculai dilarang dokter. Karena menghapal dengan ikhlas dan niat ibadah akan mempercepat penyembuhan. Sadarlah senantiasa, bahwa datangnya sakit adalah salah satu cara Allah SWT untuk mengampuni dosa hamba-hamba-Nya.
C. Doa[25]
Pada saat-saat tertentu, kadang ditemukan proses menghapal yang benar-benar sulit. Sudah masuk, lepas lagi. Sudah hapal, lupa lagi. Sampai mempengaruhi kondisi fisik menjadi tidak stabil, pusing, mual, dan lain sebagainya. Maka, teruskan usaha, sering-sering berdoa, baik di waktu-waktu khusus maupun umum. Mintalah doa sama orang tua, guru-guru, orang-orang shaleh, dan teman-teman. Juga sebaliknya, kita harus mendoakan mereka. Bacalah doa dan shalawat sebelum dan sesudah mengaji dengan khusuk dan khidmat. Renungkan maknanya dengan hati, jangan asal bunyi. Yakinlah bahwa sesungguhnya Allah SWT itu dekat, lebih dekat dari urat nadi, Maha Mendengar setiap doa yang dipanjatkan, dan Maha Mengetahui segala isi hati.
Diriwayatkan bahwa Ali Ibn Abi Thalib bertaka kepada Rasulullah SAW: “Ya Rasulallah, al-Quran sering lepas dari dadaku”. Rasulullah SAW bersabda: “Akan aku ajarkan kepadamu doa-doa yang menyebabkan Allah SWT akan memberikan kemanfaatan bagimu dan orang-orang yang kamu ajari doa-doa ini”. Ali berkata: “Ya, dengan bapakku, engkau ku tebus, dan ibuku”. Rasulullah SAW bersabda: “Shalatlah pada malam jum’at sebanyak empat rakaat. Rakaat pertama membaca al-Fatihah dan Yasin, rakaat kedua membaca al-Fatihah dan al-Dukhan, rakaat ketiga membaca al-Fatihah dan Alif Lam Mim Tanzil, dan rakaat keempat membaca al-Fatihah dan Tabarak. Setelah selesai, memujilah kepada Allah, shalawat ke para Nabi, dan beristighfarlah untuk orang-orang mukmin, kemudian bacalah doa ini:
اَللَّهُمَّ ارْحَمْنِي بِتَرْكِ الْمَعَاصِي أَبَدًا مَّا أَبْقَيْتَنِي، وَارْحَمْنِي مِنْ أَنْ أَتَكَلَّفَ مَا لاَ يَعْنِينِي، وَارْزُقْنِي حُسْنَ النَّظْرِ فِيمَا يُرْضِيكَ عَنِّي أَللَّهُمَّ بَدِيعَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَا ذَا الجَلَالِ وَالْأِكْرَامِ، وَالْعِزَّةِ الَّتِي لَا تُرَامُ، أَسْأَلُكَ يَا اَللهُ يَا رَحْمَنُ بِجَلاَلِكَ وَنُورِ وَجْهِكَ أَنْ تُلْزِمَ قَلْبِي حُبَّ كِتَابِكَ كَمَا عَلَّمْتَنِي وَارْزُقْنِي أَنْ أَتْلُوَهُ عَلَى النَّحْوِ الَّذِي يُرْضِيكَ عَنِّي وَأَسْأَلُكَ أَنْ تُنَوِّرَ بِالْكِتَابِ بَصَرِي وَتُطْلِقَ بِهِ لِسَانِي وَتُفَرِّجَ بِهِ عَنْ قَلْبِي وَتَشْرَحَ بِهِ صَدْرِي وَتَسْتَعْمِلَ بِهِ بَدَنِي وَتُقَوِّيَنِي عَلَى ذَلِكَ وَتُعِينَنِي عَلَيهِ فَإِنَّهُ لاَ يُعِينُنِي عَلَى الْخَيرِ غَيرُكَ وَلاَ يُوَفِّقَ لَهُ إِلَّا أَنْتَ[26]
Kerjakanlah selama tiga jum’at, lima, sampai tujuh jum’at, niscaya Allah SWT akan memberikan hapalan yang kuat kepadamu, dan aku belum pernah salah memberikan yang terbaik untuk seorang mukmin”. Setelah tujuh jum’at, kemudian Ali datang kembali dan menceritakan bahwa hapalannya kini sangat kuat, baik al-Quran maupun hadits. Maka Nabi SAW bersabda: “Seorang mukmin, demi Rabb Ka’bah, telah mengajari Abi Hasan, telah mengajari Abi Hasan”.[27]
D. Meningkatkan Ibadah[28]
Menghapal al-Quran adalah amal yang begitu mulia, dan ibadah yang mempunyai kedudukan khusus di sisi Allah SWT. Sudah selayaknya mewujudkannya pun harus dengan aktifitas ibadah pula. Perbanyak kwantitasnya, tingkatkan kwalitasnya. Shalatnya, puasanya harus ditambah. Sabar, dan senantiasa mengharap pertolongan Allah SWT. Berakhlaklah dengan akhlak al-Quran. Al-Quran jangan sekedar dibaca dan diulang-ulang dengan lidah. Bukan untuk mencari dunia, tapi dicari oleh dunia. Temukan keindahan-keindahan tiada tara di balik setiap lafazhnya, pasti akan terpesona, dan hati tidak bepaling kepada selainnya. Insyallah, hapalan akan kuat dan menentramkan.
Syaikh Zainuddin al-Malibary menulis beberapa sifat yang harus dimiliki oleh seorang qari dan hafiz dalam bait-bait syairnya, sebagai berikut:[29]
1. Bagi Qari dan Hafizh haruslah berakhlak
-dengan akhlak-akhlak yang baik dan diridoi, seraya menyempurnakan
2. Seperti zuhud terhadap dunia, dan meninggalkan kepedulian
-terhadap dunia dan ahli-ahlinya, seraya menyedikitkan
3. Begitu juga, murah hati, dermawan, berakhlak mulia,
wajah yang berseri-seri, dan tidak masam
4. Penyabar, tegar, dan menghindar
-dari pekerjaan yang rendah, seraya memaksakan diri
5. Senantiasa tenang, wara’
khusyu’, dan tawadhu, seraya mencari kesempurnaan
6. Menggunting kumis, menyisir janggut,
memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak, maka kerjakanlah
7. Menghilngkan bau yang tidak sedap, kotoran-kotoran badan,
dan menghindari pakaian-pakaian yang makruh, maka maksimalkanlah
8. Begitu juga, menjauhi tempat-tempat tertawa
Menjauhi banyak bercanda dan berlebihan
9. Hati-hatilah dengan ujub, ria, hasad
dan meredahkan orang lain dengan takabbur
10. Gunakanlah dzikir dan doa ma’tsur,
demikian pula tasbih dan tahlil yang jelas sumbernya
11. Senantiasalah ingat kepada Allah saat sepi dan ramai,
dan hanya kepada Allah, dalam segala urusan, bersandarlah
12. Ini adalah sebagian adab bagi pembaca dan penghapal al-Quran,
dan carilah sisanya dari kitab al-Tibyan, dan menghadaplah dengan menyempurnakan
Akhlak yang harus didahulukan dalam menghapal al-Quran ini adalah akhlak yang berhubungan langsung dengan al-Quran itu sendiri, yaitu mengagungkannya. Bentuk mengagungkan al-Quran, sebagaimana ditulis Syaikh Nawawi al-Bantany, adalah jangan membaca dan menyentuhnya kecuali dalam kedaan suci dari hadats dan dari najis, harus bersiwak dan membersihkan sisa makanan dari gigi sebelum membacanya, duduk dengan tegak kecuali dalam shalat, jangan sambil bersandar,[30] harus memakai pakaian indah karena pembaca berarti sedang bermunajat kepada Allah SWT, menghadap qiblat, berkumur setiap kali berdahak, menghentikan bacaan ketika menguap, membacanya dengan tenang dan tartil, memenuhi hak-hak setiap hurufnya, jangan membiarkan lembaran mushaf terbuka ketika sedang disimpan, jangan meletakan sesuatu apa pun di atasnya hingga al-Quran selamanya di atas semua kitab, harus meletakannya di atas lahunan atau di atas sesuatu yang tinggi di hadapannya saat membaca, jangan meletakannya tergeletak di atas lantai, jangan melebur tulisan al-Quran dari semisal papan dengan air ludah melainkan harus mencucinya dengan air, jangan menyimpan lembaran yang sudah rusak dan usang dengan alasan pemelihraan karena merupakan kezaliman yang besar, melainkan harus meleburnya dengan air, jangan membacanya di pasar-pasar, tempat-tempat gaduh, sia-sia, dan tempat kumpul orang-orang badung,[31] air bilasannya[32] jangan dibuang ke tempat sampah, tempat najis, dan tempat yang suka diinjak orang apabila ada seseorang yang mandi dengan bilasan itu untuk kesembuhan, melainkan harus menuangkannya ke suatu tempat yang tidak suka diinjak orang, atau menggali sebuah lubang di tempat yang suci hingga dapat dituangkan ke sana dan diserap oleh tanah, atau ke dalam sungai yang besar hingga bercampur dengan airnya lalu mengalir, dan harus menyebut nama Allah SWT dalam setiap hembusan nafas ketika menulisnya atau meminumnya, dan harus membesarkan niat karena Allah SWT akan memberi seseorang sesuai niatnya.[33]
E. Menghindari Maksiat[34]
Salah satu penyebab sulitnya menghapal adalah maksiat. Iman Syafi’i dalam sya’irnya menceritakan pengalamannya dalam menghapal. Katanya, hapalannya begitu buruk, sulit mendapatkannya, dan mudah hilangnya. Lalu ia adukan masalahnya itu kepada gurunya yang bernama Wakai’. Kemudian gurunya menunjukan agar Imam Syafi’i meninggalkan maksiat. Karena sesungguhnya ilmu, terlebih al-Quran, adalah cahaya di atas cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang melakukan maksiat.
Bayangkan, sebegitunya Imam Syafi’I, seorang ulama yang terkenal cerdas dan sholeh, pada umur tujuh tahun sudah hapal al-Quran dan taat beribadah, masih saja mengeluhkan hapalannya yang buruk dan diperintahkan untuk meninggalkan maksiat. Apalagi kita, tentu lebih harus lagi. Jagalah hati baik-baik, jangan sampai ada lintasan-lintasan yang mengotorinya. Tundukan pandangan. Tutup telinga dari suara-suara dosa. Tahan lidah dari mengatakan dusta, ghibah, dan zhalim. Peliharalah kemaluan, dan kontrol tangan dan kaki, jangan sampai mengayun kepada keburukan.
Syaikh Abdullah Ibn al-Husain al-Ba’alawy, dalam kitabnya, Sullamut Taufiq,[35] merinci beberapa maksiat yang harus dihindari. Ia membagi maksiat ke dalam beberapa kategori, yaitu maksiat hati, maksiat perut, maksiat mata, maksiat lidah, maksiat telinga, maksiat tangan, maksiat kemaluan, maksiat kaki, dan maksiat badan.
Maksiat-maksiat hati, antara lain:
1. Riya dengan amal baik
2. ‘Ujub, yaitu merasa bahwa ibadah yang dilakukannya muncul dari dirinya sendiri, bukan nikmat Allah
3. Ragu kepada Allah SWT
4. Merasa aman dari siksa Allah SWT
5. Putus asa kepada rahmat Allah SWT
6. Takabbur kepada hamba-hamba Allah SWT
7. Dendam yang diturutkan
8. Dengki
9. Menyebut-nyebutkan shadaqah
10. Bertahan, tidak berniat keluar dari dosa
11. Buruk sangka kepada Allah SWT, dan kepada hamba-hamba-Nya
12. Mendustakan taqdir
13. Senang dengan perbuatan maksiat
14. Menipu, meski kepada orang kafir
15. Melakukan makar
16. Membenci para shahabat dan keluarga Nabi, serta orang-orang shaleh
17. Tidak mau mengeluarkan apa yang telah diwajibkan oleh Alllah SWT untuk dikeluarkan
18. Pelit
19. Terlalu menginginkan harta dunia
20. Menghinakan apa-apa yang diagungkan Allah SWT
21. Menganggap remeh apa-apa yang dianggap besar oleh Allah SWT, seperti tha’at, maksiat, al-Quran, ilmu, surga, dan neraka
Maksiat-maksiat perut, antara lain:
1. Memamakan riba, pajak, barang yang didapatkan dengan mengghasab, hasil curian, dan barang yang dihasilkan dari setiap transaksi yang diharamkan oleh Allah SWT
2. Meminum khamar
3. Menkonsumsi segala sesuatu yang memabukan, yang najis, dan yang menjijikan
4. Memakan harta yatim dan wakaf yang bukan haknya
Maksiat-maksiat mata, antara lain:
1. Melihat perempuan yang bukan mahram, dan sebaliknya
2. Melihat aurat. Maka diharamkan bagi laki-laki melihat sedikit saja dari bagian badan perempuan yang bukan mahram dan bukan istri. Dan diharamkan bagi perempuan membuka sedikit saja bagian tubuhnya di hadapan orang yang tidak halal melihatnya. Dan diharamkan bagi laki-laki dan perempuan membuka bagian tubuh antara pusar dan lutut di hadapan orang yang dapat melihat aurat meskipun sesama jenis dan mahram kecuali suami istri.
3. Melihat kepada orang muslim dengan tujuan menghinakan
4. Melihat ke dalam rumah orang lain tanpa idzin
5. Melihat rahasia orang lain tanpa idzin
6. Melihat kemunkaran tanpa menginkarinya dan tanpa udzur serta tidak segera menjauhinya
Maksiat-maksiat lisan, antara lain:
1. Ghibah, menggunjing
2. Namimah, mengadu domba, baik antar manusia maupn binatang
3. Berdusta
4. Sumpah palsu
5. Kata-kata menuduh zina
6. Mencaci dan menjelek-jelekan para shahabat Rasulullah SAW
7. Kesaksian palsu
8. Inkar janji
9. Melambatkan membayar hutang padahal sudah ada untuk membayarnya
10. Mamarahi orang lain
11. Mencaci maki
12. Mengutuk
13. Mengolok-olok orang muslim
14. Setiap kata yang dapat menyakiti orang muslim
15. Berdusta terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya SAW
16. Pengakuan palsu
17. Thalaq bid’i, yaitu menceraikan istri pada masa suci, yang pada masa suci itu pernah dijima’
18. Zhihar, yaitu menyerupakan istri dengan mahram suami dengan maksud menghramkannya untuk digauli, misalnya, suami mengatakan kepada istrinya: “Kamu bagiku seperti punggung ibuku”
19. Salah membaca al-Quran, meskipun tidak sampai merusak makna
20. Orang kaya meminta-minta
21. Nadzar dengan tujuan menglangi ahli warits
22. Tidak mewasiatkan hutang atau barang yang tidak diketahui oleh selain dirinya
23. Menisbatkan diri kepada selain bapaknya atau tuannya
24. Melamar perempuan yang telah dilamar oleh orang lain
25. Berfatwa tanpa ilmu
26. Mengajarkan dan mempelajari ilmu yang berbahaya
27. Berhukum dengan selain hukum Allah SWT
28. Memanggil-manggil, menjerit-jerit, dan meratapi orang yang meninggal
29. Setiap ucapan yang menyemangatkan kepada melakukan sesuatu yang diharamkan, dan mengendurkan dari melakukan yang wajib
30. Berkata buruk mengenai agama, salah seorang Nabi, ulama, syara’, al-Quran, atau salah satu dari syi’ar-syi’ar Allah SWT
31. Meniup terompet
32. Diam dari melakukan amar ma’ruf dan nahyi munkar
33. Menyembunyikan ilmu wajib pada saat ada orang yang mencarinya
34. Mentertawakan orang yang keluar angin
35. Mentertawakan orang muslim dengan maksud merendahkan
36. Menyembunyikan kesaksian
37. Melupakan al-Quran
38. Tidak menjawab salam yang wajib
39. Ciuman yang mebangkitkan syahwat bagi orang yang sedang ihram haji atau umrah, dan bagi orang yang sedang puasa
40. Mencium orang yang tidak halal dicium
Maksiat-maksiat telinga, antara lain:
1. Mendengarkan ucapan yang dirahasiakan darinya
2. Mendengarkan alat-alat musik yang dilarang, dan mendengarkan setiap suara yang diharamkan, seperti mendengarkan ghibah, namimah, dan setiap ucapan yang diharamkan, kecuali tidak sengaja atau dipaksa, tetapi wajib harus menginkarinya dengan hati
Maksiat-maksiat dua tangan, antara lain:
1. Curang dalam menakar, menimbang, dan mengukur
2. Mencuri
3. Merampas secara paksa dan terang-terangan
4. Mengambil hak orang lain (ghasab)
5. Memungut pajak
6. Curang dalam pembagian ghanimah
7. Membunuh jiwa
8. Memukul tanpa hak
9. Mengambil dan memberi suap
10. Membakar binatang, kecuali tidak ada cara lain untuk memusnahkannya
11. Memutilasi binatang, dan menjadikan binatang sebagai bulan-bulanan
12. Segala macam perjudian, termasuk main kelereng bagi anak anak-anak dengan cara pasang
13. Memainkan alat-alat musik yang diharamkan
14. Menyentuh kulit perempuan yang bukan mahram dengan sengaja tanpa hijab, atau memakai hijab tapi ada syahwat
15. Tidak mau membayar zakat atau sebagiannya, atau membayarnya dengan barang yang tidak memenuhi syarat, atau memberikannya kepada yang bukan mustahiq
16. Tidak mau membayar upah kepada pekerja
17. Tidak mau membantu orang yang kesusahan sekedar untuk menyambung nyawanya
18. Tidak mau menyelamatkan orang yang tenggelam tanpa udzur
19. Menuliskan segala sesuatu yang haram diucapkannya
20. Berkhianat
Maksiat-maksiat kemaluan, antara lain:
1. Berzina
2. Sodomi
3. Menggauli binatang, meskipun miliknya
4. Mengeluarkan air mani dengan tangan selain tangan strinya
5. Menggauli istri yang sedang haid atau nifas
6. Membuka aurat di hadapan orang yang haram melihatnya
7. Menghadap atau membelakangi qiblat pada saat buang air kecil dan air besar tanpa dihalangi sesuatu yang memenuhi syarat, kecuali di tempat yang disediakan khusus untuk buang air, seprti WC
8. Buang air besar di dalam masjid atau ke atas sesuatu yang diangungkan, meskipun memakai wadah
9. Tidak melakukan khitan sampai baligh
Maksiat-maksiat badan, antara lain:
1. Mendurhakai orang tua
2. Lari dari barisan perang
3. Memutuskan silatur rahim
4. Mengganggu dan menyakiti tetangga dengan gangguan yang nampak, meskipun tetangganya kafir yang memiliki perjanjian keamanan dengan kaum muslimin
5. Mencat rambut dengan warna hitam
6. Laki-laki menyerupai perempuan, dan sebaliknya
7. Memanjangkan baju sampai terseret ke tanah dengan maksud menyombongkan diri
8. Mencat kedua tangan dan kaki dengan khena bagi laki-laki tanpa ada kebutuhan
9. Memutuskan kegiatan yang fardhu tanpa udzur
10. Memotong (tidak menyelesaikan) kegiatan haji dan umrah yang sunat
11. Meniru-niru ucapan orang lain yang muslim dengan maksud mengolok-olok
12. Memata-matai aib-aib orang
13. Membuat tato
14. Tidak bertegur sapa kepada sesama muslim lebih dari tiga hari, kecuali ada udzur syara’
15. Duduk besama pembuat bida’ah dan orang fasik
16. Memakai perhiasan emas dan perak, dan sutra atau kain biasa yang campuran sutranya lebih banyak, tapi hanya berlaku bagi laki-laki baligh, kecuali cincin perak
17. Bersunyi dengan perempuan yang tidak halal (pacaran)
18. Perempuan bepergian sendirian tanpa ditemani mahramnya
19. Mempekerjakan orang merdeka secara paksa
20. Mengenteng-enteng ulama, pemimpin yang adil, dan cendikiawan muslim
21. Memusuhi para wali
22. Membantu terhadap maksiat
23. Memulas-mulas ucapan buruk agar tampak baik
24. Mempergunakan wadah-wadah emas dan perak, atau menyimpannya
25. Meningggalkan kewajiban, atau mengerjakannya tetapi tidak memenuhi syarat dan rukunya, atau melakukan yang membatalkannya
26. Tidak berangkat shalat jum’at padahal wajib dan tidak udzur, meskipun menggantinya dengan shalat zhuhur
27. Orang sekampung tidak ada satu pun yang mendirikan shalat berjamaah shalat yang lima waktu
28. Mengakhirkan kefarduan dari waktunya tanpa udzur
29. Melempar binatang buruan dengan benda tumpul
30. Membuat bulan-bulanan dengan binatang
31. Perempuan yang sedang menjalani masa iddah tidak tetap di rumah tanpa udzur
32. Tidak berkabung atas kematian suami
33. Menajisi masjid dan mengotorinya meskipun dengan sesuatu yang suci
34. Menunda-nunda haji setelah mampu sampai meninggal
35. Memberikan pinjaman kepada orang tidak ada harapan dapat membayar dilihat dari lahirnya
36. Tidak memberikan tempo kepada orang yang kesulitan membayar
37. Mengorbankan harta dalam kemaksiatan
38. Meremehakn mushaf al-Quran dan setiap ilmu syara’
39. Membiarkan anak kecil yang belum mengerti memainkan mushaf
40. Menggeserkan batas tanah
41. Melakukan sesuatu di jalan dengan apa yang tidak diperbolehkan
42. Mempergunakan barang pinjaman ke dalam sesuatu yang tidak diidzinkan oleh pemiliknya, atau melebihi batas waktu yang ditentukan, atau meminjamkannya lagi kepada orang lain tanpa idzin
43. Melarang orang lain mengambil manfaat dari tempat milik umum, seperti menggembala dan mengambil kayu bakar dari tanah mati, garam dari laut, emas, perak, dan air untuk minum
44. Mempergunakan barang temuan sebelum dicari tahu pemiliknya
45. Duduk menyaksikan kemunkaran, kecuali ada udzur
46. Masuk ke sebuah tempat walimah tanpa idzin, atau diidzinkan tapi karena malu
47. Memuliakan seseorang karena takut keburukannya
48. Tidak menyamakan hak-hak antara istri-istri
49. Perempuan keluar rumah memakai wewangian dan berhias meskipun tertutup dan ada idzin suami, apabila akan melewati laki-laki yang bukan mahram
50. Sihir
51. Tidak mentaati pemimpin
52. Mengurus yatim, masjid, atau jadi hakim dan lain sebagainya padahal tahu bahwa dia tidak mampu menjalaskan tugas tersebut
53. Melindungi orang yang zhalim dan tidak menyerahkannya kepada orang yang hendak menuntut hak darinya
54. Menakut-nakuti orang muslim
55. Membegal
56. Tidak memenuhi nadzar
57. Puasa wishal
58. Mengambil tempat duduk orang lain, atau menyempitkannya hingga mengganggu dan menghambil gilirannya
F. Tawakkal[36]
Setelah semua usaha dilakukan, serahkan hasilnya kepada Allah SWT, niscaya Allah SWT akan mencukupkan. Jangan meresa kecewa ketika hapalan belum dapat padahal sudah berusaha keras. Teruskan usaha itu sambil hati berserah kepada Allah SWT. Allah SWT Maha tahu mana yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Jangan putus asa dan patah semangat manakala hapalan tak kunjung usai. Baru berapa kali kita mengulang-ulang ayat itu? 10 kali? 20 kali? 100 kali? 1000?, itu masih sedikit, tidak sebanding dengan nikmat Allah SWT yang telah diberikannya. Ketika, misalnya, kita baru hapal pada pengulangan ke-seratus, kita jangan menyangka bahwa pengulangan yang pertama tidak berarti. Justru sebaliknya, satu kali pengulangan adalah lebih berarti dari bumi beserta isinya. Apabila ada seseorang sedang memecahkan batu dengan sebuah palu besar, satu kali pukulan tidak berpengaruh apa-apa, dua kali juga sama saja, tiga kali, empat kali, kemudian setelah pukulan ke-sepuluh baru batu tersebut pecah. Apakah pukulan-pukulan sebelumnya tidak berpengaruh? Jelas, berpengaruh. Ingat, tidak akan ada pukulan yang ke-sepuluh kalau tidak ada pukulan yang pertama, ke dua, dan seterusnya.
G. Setoran[37]
Setoran adalah kegiatan membaca hasil hapalan di hapadan mursyid. Kegiatan setoran ini sangat penting dalam menghapal al-Quran, karena akan berpengaruh kepada kelancaran dan kekuatan hapalan. Bagi seorang hafizh, mungkin telah terbiasa merasakan perbedaan yang cukup besar antara hapalan yang sudah disetorkan dan hapalan yang belum disetorkan. Setoran dapat dijadikan ukuran dan evaluasi terhadap hapalan dan bacaan. Kalau tidak disetorkan, tidak akan diketahui sejauh mana hapalan yang telah dimiliki, karena kadang tercampur dengan ayat yang belum benar-benar hapal. Dan dengan adanya setoran, dapat diketahui seberapa lancer hapalan tersebut, dan apabila terdapat bacaan yang salah sewaktu menghapal, maka akan terkoreksi.
Pasal III
MUHAFAZAH[38]
A. Pengertian Muhafazhah
Muhafazhah adalah menjaga dan mempertahankan hapalan agar tidak lupa kembali. Ayat-ayat al-Quran dinisbatkan kepada proses penghapalan dan penjagaannya mempunyai beberapa karakter, yaitu antara lain:
1. Mudah dihapal sulit lupa
2. Mudah dihapal mudah lupa
3. Sulit dihapal sulit lupa
4. Sulit dihapal mudah lupa
Hal ini biasanya dipengaruhi oleh struktur ayat itu sendiri atau kondisi penghapalnya yang sedang tidak stabil. Namun apa pun yang terjadi, sebagaimana dikatakan dalam hadits, yang harus dicermati adalah bahwa al-Quran itu lebih mudah lepasnya dari pada unta dari ikatannya.[39] Memang benar, apabila tidak langsung diulang-ulang secara rutin, hapalan yang sudah didapat akan hilang kembali, apalagi belum begitu lancar. Oleh karenanya, harus ada keseimbangan antara menambah hapalan dan mengulangnya. Bahkan dalam pengulangan ini harus lebih serius, karena mempertahankan hapalan ternyata lebih berat dari memulainya.
B. Macam-Macam Muhafazhah
1. Takrir[40]
Takrir adalah mengulang hapalan yang telah selesai dihapal. Secara umum, hapalan dapat dikelompokan ke dalam hapalan yang baru dan hapalan yang lama. Dalam sistem mentakrir, hapalan yang baru harus lebih didahulukan, kemudian hapalan yang lama. Takrir harus dilakukan secara berkesinambungan. Setiap kali bertambah hapalan, usahakan agar jangan menambah sebelum hapalan yang lalu tertakrir seluruhnya. Memang ini akan menyita banyak waktu dan tenaga khususnya ketika hapalan telah banyak, beban takrir bertambah berat. Untuk mengatasinya, maka harus ada penyetopan pada juz-juz tertentu. Artinya, setelah sampai pada juz tersebut, jangan dulu menambah, terus saja mengulang hingga benar-benar lancar dan diperkirakan tidak akan lupa meski tidak terbaca selama beberapa hari. Setelah itu, baru mulai menambah lagi, dan lakukan seperti sebelum penyetopan hingga, ketika jumlahnya telah sama dengan hapalan yang telah distop, maka stop lagi, dan lakukan seperti pada penyetopan pertama. Demikian pula seterusnya sampai khatam.
Namun, melakukan tidak semudah mengatakan. Pada kenyataannya jarang yang dapat merealisasikan takrir dengan baik. Hanya karena merasa lelah dan bosan dengan takrir, serta tidak sabar ingin cepat hapal 30 juz, hapalan belum bagus, sudah nambah lagi. Hal ini akan mengakibatkan hapalan terkatung-katung, berlangsung lebih lama, dan khawatir tidak bisa lancar. Kecuali memang sudah siap dari awal akan resiko yang akan diterima. Mentakrir hapalan yang tidak lancar akan terasa lebih berat dan sulit dari pada menambah hapalan baru. Kesulitan ini muncul akibat kurang konsentrasi yang disebabkan pandangan nafsu yang sudah tidak tertarik lagi dengan ayat yang sudah sering dibaca, membosankan, itu lagi, itu lagi. Padahal kalau berpikir jernih, tidak akan demikian. Jangan terbawa nafsu. Kalau misalnya bosan, silahkan ganti dulu, tapi jangan ditinggalkan sama sekali. Coba pikirkan, kalau nakrirnya tidak baik, nambah pun percuma, karena hapalan yang baru itu natinya tidak akan tertakrir juga. Untuk mengatasi kebosanan ini, anggaplah ayat tersebut seperti belum pernah dihapal. Insyaallah akan ada suasana lain.
Takrir dinisbatkan kepada kwalitas hapalan dan penjagaan terbagi ke dalam tiga bagian yaitu,
1. Takrir ayat yang belum lancar
2. Takrir ayat yang sudah lancar untuk penjagaan
3. Takrir ayat yang sudah lancar untuk evaluasi
Takrir ayat yang belum lancar harus dilakukan layaknya menambah hapalan baru, agar tidak bosan dan tetap bisa konsentrasi. Takrir untuk penjagaan harus dilakukan dalam jumlah yang banyak dan bacaan yang cepat agar semuanya tertakrir, dan bisa juga dilakukan dengan bacaan sirr untuk menghemat tenaga. Dan takrir untuk evaluasi harus dilakukan dengan bacaan tartil dan tidak harus banyak, namun upayakan agar takrir evaluasi ini difokuskan kepada ayat-ayat yang biasanya sering keliru.
Dalam takrir, tidak luput dari kekeliruan. Dalam satu juz, misalnya, mungkin sedikitnya satu kali salah akan selalu ada. Tapi kalau takrirnya dilakukan secara berkesinambungan dengan terus melakukan evaluasi kekurangan-kekurangannya dan menandai ayat-ayat yang biasanya selalu keliru, insyaallah akan ada peningkatan.
Bentuk kekeliruan dalam takrir bermacam-macam, yaitu antara lain:
1. Terlewat
2. Salah menyambungkan
3. Salah mengucapkan kalimah, huruf, dan harakat
Selain itu, penyebab kekeliruannya pun bermacam-macam, yaitu antara lain:
1. Salah baca ketika sedang menghapalnya, sehingga kesalahan ini dianggap benar
2. Lidah yang kurang baik dan fashahat
3. Sabqullisan, terpeleset lidah
4. Ragu
5. Lupa
Kekeliruan yang disebabkan salah baca ketika sedang menghapal akan berakibat fatal, karena kadang yang bersangkutan tidak merasa salah sedikitpun. Dengan demikian, kekeliruan ini hanya akan diketahui apabila disetorkan kembali, disima’, atau diujikan. Kekeliruan yang disebabkan lidah yang tidak fashahah dan sabqullisan dapat diatasi dengan meningkatkan kehati-hatian dan konsentrasi dalam melakukan takrir. Adapun yang disebabkan ragu dan lupa dapat diatasi dengan terus berupaya mengingat-ingatnya meski dalam waktu yang cukup lama, setelah itu, ingat atau tidak, harus membuka mushaf untuk menyakinkan, lalu camkan baik-baik dan baca berulang-ulang hingga diperkirakan tidak akan keliru lagi. Ragu bebrbeda dengan lupa. Ragu biasanya disebabkan terdapat dua pilihan dalam hati, bukan tidak ingat, tapi tidak tahu mana yang benar. Kadang-kadang ragu ini muncul secara tiba-tiba akibat konsentrasi yang mendadak bercabang karena pengaurh setan,[41] padahal sebelumnya tidak, dan anehnya, kadang malah seringkali kita memilih yang salah. Sedangkan lupa, adalah benar-benar tidak tergambar sama sekali.
Lupa terdiri dari beberapa tingkatan, yaitu:
1. Lupa yang dapat diingat dengan hanya mengulang ayat sebelumnya
2. Lupa yang dapat diingat dengan dipikirkan secara mendalam
3. Lupa yang tidak dapat diingat kecuali diberitahu atau melihat mushaf
Penanganan kekeliruan harus benar-benar diperhatikan. Kekeliruan tidak akan selesai hanya dengan diberi tahu atau melihat mushaf sekali saja, melainkan harus berulang-ulang, diingat-ingat, dan diperhatikan dengan seksama. Karena jika tidak demikian, kekeliruan itu akan terus berulang di tempat yang sama.
Kekeliruan biasanya terjadi disebabkan kesalahan yang terjadi sewaktu proses menghapalkannya yang dibiarkan tanpa penanganan serius. Misalnya, pada saat menghapal, menjumpai sebuah ayat yang tiba-tiba, entah mengapa, terasa berat dan sering keliru, maka setiap kali menjumpai ayat tersebut, maka perasaan berat dan keliru yang sama akan terus muncul sepanjang belum ditangani dengan maksimal. Dengan demikian, ketika hapalan telah banyak, jangan kaget, takut lupa, atau merasa berat dengan beban takrir yang semakin memeras tenaga, ditambah lagi dengan adanya beberapa ayat yang tak kunjung lancar, karena hapalan yang didapatkan dalam kondisi demikian, selain susah didapatkan, juga rasa susah itu akan terus menghantui saat dilakukan takrir hingga sulit lancar. Biasanya, seorang hafizh dapat merasakan bahwa 10 juz terakhir lebih sulit untuk lancar. Kenapa demikian? Jelas, karena pada masa itu sedang berat-beratnya. Maaf, mungkin banyak juga orang yang hapalannya tidak maju-maju pada juz-juz itu. Karena itu, kontrolah diri agar tetap tenang, stabil, dan istiqamah.
Kemudian, pada prakteknya, takrir dapat dibantu juga dengan mendengarkan orang lain membaca, baik langsung maupun rekaman. Atau disetorkan lagi kepada mursyid.
2. Tafsir[42]
Untuk menguatkan dan menjaga hapalan agar tetap terpelihara dengan baik harus diiringi dengan tafsirnya, termasuk terjemah, dan menganilisis munasbah. Maka أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ tidak akan keliru dengan أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ, karena kontek kedua ayat tersebut berbeda, yang pertama berkenaan dengan neraka, dan yang kedua berkenaan dengan surga. Begitu juga, إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الظَّالِمِينَ tidak akan dibaca إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ المُحْسِنِينَ atau إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الظَّالِمِينَ, bahkan kalau analisisnya telah begitu mendalam, antar kosa kata yang hampir mirip pun tidak akan keliru. Misalnya إنَّ اللهَ tidak akan keliru dengan إنَّهُ, أَنَّ اللهَ, أَنَّهُ, اللهُ, هُوَ, dan seterusnya. Karena redaksi al-Quran itu penuh dengan keserasian, baik kata maupun maknanya, sehingga Ibn ‘Athiyyah berkata: Dan kitab Allah, seandainya dicabut darinya satu kata saja, kemudian lisan ‘Arab diputarkan untuk menemukan penggantinya, niscaya tidak akan tergantikan.[43]
Dalam tulisan penulis, Tafsir Quran Sistem, penulis kemukakan bahwa penutup suatu ayat akan sesuai dengan konteks yang dibicarakan di dalamnya. Imam al-Ashmu’i membacakan surat al-Maidah ayat 38 kepada seorang a’raby yang belum tahu al-Quran, yaitu:
ä-Í$¡¡9$#ur èps%Í$¡¡9$#ur (#þqãèsÜø%$$sù $yJßgtÏ÷r& Lä!#ty_ $yJÎ/ $t7|¡x. Wx»s3tR z`ÏiB «!$# 3 ª!$#ur îÍtã ÒOÅ3ym
Artinya: Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Maidah: 38)
Tetapi al-Ashmu’i keliru dalam membaca penutup ayatnya. Yang seharusnya dibaca وَالله عَزِيزٌ حَكِيمٌ malah dibaca وَاللهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ. Lalu a’raby tersebut berkata: “Perkataan siapa ini?”. Al-Ashmu’i berkata: “Perkataan Allah SWT”. A’raby berkata: “Ulangilah!”. Al-Ashmu’i sadar bahwa tadi ia telah keliru membaca penutup ayatnya, lalu al-Ashmu’i berkarta: وَاللهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ. A’raby berkata: “Sekarang anda benar”. Al-Ashmu’i kaget, bukannya a’raby itu belum tahu al-Quran sebelumnya, kenapa ia bisa tahu kalau bacaanya yang pertama adalah salah dan bacaannya yang kedua adalah benar. Al-Ashmu’i berkata: “Bagaimana kamu mengetahuinya?” A’raby berkata: Hai tuan, Allah SWT Maha Perkasa (عَزِيزٌ), karenanya Dia menghukum, maka Dia memerintahkan memotong tangan. Seandainya Dia mengampuni dan menyayangi, maka tidak akan memerintahkan memotong tangan.[44] Untuk selanjutnya, rujukalah tulisan penulis itu, karena di sana telah penulis kumpulkan segala sesuatu yang berkaitan dengan bab ini, yaitu munasabah.
Selain menganalisis mutasawiyat, bacalah kitab-kitab tafsir dan ulumul quran yang telah ditulis oleh para ulama, minimal sering membaca terjemah, apalagi sekarang sudah banyak mushaf yang dicetak dan memuat terjemah pada catatan pinggirnya. Insyaallah akan lebih mencintai al-Quran dan menguatkan hapalan.
3. Tathbiq
Tathbiq adalah menerapkan hapalan. Artinya mempunyai jadwal rutin untuk membaca al-Quran dengan ukuran tertentu yang dijalankan dengan istiqamah. Secara garis besar rutinitas tadarus harus mencakup:
a. Tadarus dalam shalat dan luar shalat
b. Tadarus malam dan siang hari
c. Menyimak bacaan orang lain dan disimak oleh orang lain
d. Tadarus dengan bacaan hadr dan tartil
e. Tadarus sebelum dan sesudah shalat,
Lebih jauh dari itu, tathbiq adalah menerapkan, menginplementasikan, dan mengamalkan al-Quran dalam kehidupan sehari-hari. Tentu ini tidak mudah, tetapi justru inilah sebenarnya yang diharapkan dari diturunkannya al-Quran. Teruslah berjuang!
PENUTUP
Al-Hamdulillah, semoga tulisan ini murni hanya untuk-Nya, besar manfaatnya dalam melahirkan generasi-generasi hafizh yang ideal, dan menjadi amal yang dapat memberikan syafaat pada hari kiamat, khususnya bagi penulis, istri penulis (semoga kami menjadi keluarga sakinah,mawaddah,warahmah) dan kelak bisa mendapatkan keturunan shaleh dan shalehah dan berguna dunia akhirat, orang tua kami, guru-guru kami, sahabat-sahabat kami, dan umumnya seluruh muslimin muslimat. Amin
Pondok Pesantren Tahfidhil Quran Al-Mustaqimiyah
Senin, 09,02,2009 M
01:22
[1] Q.S. al-Anfal: 60
[2] Q.S. al-Qamar: 17, 22, 32, 40
[3] Q.S. al-Baqarah: 165
[4] Shahih Muslim, no. 1898
[5] Q.S. al-Qamar: 17, 22, 32, 40
[6] Q.S. al’Ankabut: 5
[7] Q.S. Alu ‘Imran: 159
[8] Hadits Riwayat al-Bukhary dan Muslim: Pastinya perbuatan-perbuatan itu hanya dengan niat-niat.
[9] Q.S. al-Naml: 6
[10] Q.S. al-Zukhruf: 14
[11] Q.S. al-‘Ashr: 1
[12] Q. S. al-Dzariyat: 17
[13] Q.S. al-Waqi’ah: 75
[14] Hadits tentang wahyu pertama yang turun di sebuah tempat di Jabal Nur, yaitu sebuah goa yang dinamakan goa Hira. Kitab Shahih al-Bukhary, jilid 1, halaman 4
[15] Q.S. al-Kahfi: 65
[16] Q.S. al-Baqarah: 250
[17] Q.S. Qaf: 37
[18] Q.S. al-‘Ankabut: 69
[19] Q.S. Al-Nisa: 142
[20] Q.S. al-Ma’un: 4-5
[21] Q.S. al-Nisa: 32
[22] Q.S. al-Fath: 11
[23] Q.S. al-Munafiqun: 4
[24] Q.S. al-Anbiya: 83
[25] Q.S. Ghafir: 60
[26] Ya Allah, sayangilah aku dengan meninggalkan maksiat-maksiat selamanya, selama Kau sisakan aku, sayangilah aku dari bersusah payah mengerjakan apa yang tidak bermakna bagiku, dan rizqikanlah aku kepada indahnya merenungi apa yang meridhokanMu kepadaku. Ya Allah, Pencipta langit-langit dan bumi, Pemilik keagungan dan kemuliaan, dan keperkasaan yang tak tertandingi, aku meminta kepadaMu, ya Allah, duhai Yang Maha Pemurah, dengan keagunganMu dan cahaya wajahMu, agar Engkau menetapkan hatiku kepada mencintai kitabMu sebagaimana Engkau telah mengajariku, dan rizqikanlah aku kepada membacanya atas arah yang meridhokanMu kepadaku, dan aku meminta kepadaMu agar Engkau menyinari penglihatanku dengan al-Kitab ini, membuka celah di hatiku dengannya, melapangkan dadaku dengannya, menggunakan tubuhku dengannya, menguatkanku kepadanya, dan membantuku ke atasnya, karena tidak ada yang dapat membantuku kepada kebaikan selain Engkau, dan tidak ada yang dapat mentaufiqiku kepadanya selain Engkau.
[27] Al-Thabarany, Al-Mu’jam al-Kabir, jld., 11, hlm., 367, no., 12036
[28] Q.S. al-Mu’minun: 1-9
[29] Zainuddin al-Malibary, Hidayatul Azkiya Fathul Mu’in (al-Haramain Jaya Indonesia, 2006), cet. Ke 1, hlm., 155
[30] Dalam kondisi tertentu boleh membacanya dalam posisi apa pun selama tidak mengurangi rasa keagungannya
[31] Dalam tempat-tempat tersebut bacalah al-Quran dalam hati, atau kalau berani menanggung resiko timbulnya fitnah boleh memakai suara, asalkan jangan mengganggu kekhusyukan
[32] Ini mengacu kepada keyakinan sebagian muslimin di Indonesian yang menjadikan al-Quran sebagai obat, yaitu dengan cara ditulis di atas sesuatu semacam piring, kemudian dibilas, lalu airnya diminum atau digunakan untuk mandi
[33] Syaikh Nawawi al-Bantany, Qomi’ al-Thughyan, (Thaha Putra Semarang), hlm., 8
[34] [وَذَرُوا ظَاهِرَ الْإِثْمِ وَبَاطِنَهُ إِنَّ الَّذِينَ يَكْسِبُونَ الْإِثْمَ سَيُجْزَوْنَ بِمَا كَانُوا يَقْتَرِفُونَ [الأنعام/12
[35] Syaikh Abdullah Ibn al-Husain, Sullamuttaufiq, (Semarang: Pustaka al-Alawiyah), hlm., 40-53
[36] Q.S. al-Thalaq: 3
[37] Q.S. al-Naml: 6
[38] Q.S. al-Hijr: 9
[39] Shahih Muslim, no., 1880
[40] Q.S. Thaha: 130
[41] Q.S. al-Kahfi: 63
[42] Q.S. al-‘Ankabut: 49
[43] Dr Na’im al-Hamshy, Fikrah I’jaz al-Quran Mundz al-Bi’tzah Hatta ‘Ashrina al-Hadhir, (Bairut: Muassasah al-Risalah), hlm. 95
[44] H. Deden Muhammad Makhyaruddin al-Munji, Tafsir Quran Sistem, (belum diterbitkan), hlm. 64